WBP Lapas Kelas III Gunungtua Isi Waktu Luang Buat Miniatur Bernilai Jual Tinggi
![]() |
| Ranto Silalahi. |
PALUTA – Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Gunungtua membuktikan bahwa kreativitas tidak terhalang oleh jeruji besi. Mereka mengisi waktu luang dengan memproduksi berbagai kerajinan tangan bernilai seni dan ekonomi tinggi, salah satunya berupa miniatur bangunan.
Ranto Silalahi, salah seorang WBP yang menjadi perajin, mengungkapkan bahwa proses pengerjaan satu buah karya membutuhkan ketelitian ekstra. Ia menuturkan bahwa untuk menyelesaikan satu miniatur, waktu yang dihabiskan berkisar antara 7 hingga 10 hari.
Kegiatan produktif ini sama sekali tidak mengganggu jadwal pembinaan kerohanian di dalam Lapas. Ranto menjelaskan bahwa pembuatan miniatur dikerjakan murni pada waktu luang, yakni di luar jam ibadah atau setelah ibadah salat selesai.
Menariknya, keterampilan membuat miniatur ini tidak didapatkan dari pelatihan khusus, melainkan murni hasil belajar otodidak (ide sendiri) para WBP yang sudah berjalan selama 7 hingga 8 bulan terakhir. Pihak Lapas pun menyambut baik dengan memfasilitasi dan memberikan dukungan penuh agar potensi mereka terus berkembang.
Sejauh ini, sudah ada berbagai jenis karya yang berhasil diciptakan di area Lapas, di antaranya,miniatur Kantor Bupati, miniatur Rumah Adat Mandailing, miniatur Hotel Sentosa, celengan berbentuk rumah dan miniatur kapal.
Karya-karya tersebut tidak sekadar menjadi pajangan, melainkan diperjualbelikan untuk masyarakat umum. Untuk produk seperti celengan berbentuk rumah, Ranto menyebutkan karya tersebut dibanderol dengan harga Rp100.000 hingga Rp150.000. Bagi masyarakat luar yang tertarik untuk membeli, transaksi diarahkan langsung melalui pihak pembina atau petugas Lapas.
Saat ini, Ranto Silalahi bersama WBP lainnya tengah fokus mengebut penyelesaian miniatur Kantor Bupati yang ditargetkan rampung paling lambat Sabtu pekan ini. Karya khusus ini memiliki tujuan yang sangat istimewa.
Rencananya, miniatur tersebut akan diberikan sebagai suvenir atau kenang-kenangan resmi kepada Bupati Padang Lawas Utara, H. Reski Basyah Harahap, S.STP., M.Si. Penyerahan ini dijadwalkan berlangsung bertepatan dengan rangkaian upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus mendatang, momen yang biasanya juga diisi dengan agenda penyerahan remisi.
Di balik ketelatenan merangkai setiap detail miniatur tersebut, Ranto mewakili WBP lainnya menyimpan sebuah harapan besar. Mereka sangat mendambakan bisa mendapatkan remisi pada Peringatan Kemerdekaan nanti, sehingga masa hukuman dapat berkurang dan mereka bisa segera kembali berkumpul bersama keluarga di rumah.
