Keluhkan Tingginya Sortasi PKS di Paluta, Petani Sawit Merasa Dipersulit
![]() |
| Kondisi sebagian TBS yang ditolak oleh PKS di Paluta. |
PALUTA – Di tengah situasi anjloknya harga kelapa sawit, sejumlah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) justru memperketat proses sortir (grading) Tandan Buah Segar (TBS) milik petani. Kebijakan ini dinilai sangat memberatkan pihak petani maupun pengepul lokal.
Muda W. Hasibuan, salah seorang petani sekaligus pengepul TBS di wilayah Portibi, mengungkapkan bahwa tingginya standar sortasi yang diterapkan pihak PKS sangat merugikan masyarakat.
“Banyak alasan dari pihak sortase, seperti menuding buah kurang matang atau mentah. Padahal, TBS yang kami antar sudah cukup matang. Alasan-alasan itu diduga sengaja dicari-cari untuk menolak buah masyarakat,” ujar Muda.
Padahal, menurut Muda, pasokan TBS dengan kualitas yang sama sebelumnya selalu diterima oleh pihak perusahaan tanpa masalah. Terlebih lagi, saat ini masyarakat petani sudah semakin memahami tata cara panen yang baik, sehingga kualitas buah yang dihasilkan justru lebih optimal.
Muda menyebutkan ada tiga perusahaan di wilayah Paluta yang dinilai menerapkan kebijakan sortasi terlampau tinggi, yaitu PT Paluta Inti Sawit (PIS) di Kecamatan Halongonan Timur, PT Sinar Sawit Subur Lestari (SSSL) di Kecamatan Halongonan Timur dan PT Sumber Tani Agung Resources (STAR) di Kecamatan Portibi.
Kebijakan ketat dari ketiga perusahaan tersebut dinilai sangat menyulitkan petani setempat untuk menjual hasil panennya.
“Dalam satu truk, potongan akibat sortasi (grading) bisa mencapai lebih dari satu ton. Padahal dulu dengan kondisi buah yang sama, semuanya aman dan diterima tanpa kendala,” tambahnya.
